Jadilah diri sendiri; Diri orang lain sudah ada yang memiliki.
β Oscar Wilde.
Inilah pos pertama di blog baru saya. Saya baru saja memulai blog baru ini, jadi ikuti terus untuk melihat konten lainnya. Berlangganan di bawah untuk mendapatkan pemberitahuan ketika saya mengeposkan pembaruan terbaru.
Sesuai dengan janji saya di blog sebelumnya, pada tema blog kali ini saya akan coba menggali tentang kuliner khas dari Kota Ponorogo. Yak, tentunya adalah “Sate Ayam”. Kenapa sate ayam menjadi kuliner khas dari daerah Ponorogo?
Usut punya usut, sejarah kenapa Ponorogo menjadikan sate sebagai kuliner khasnya bermula dari zaman Wengker, ketika Batoro Katong selaku Bupati Ponorogo pertama, mengetahui bahwa sate menjadi makanan dari para warok.
Warok adalah tokoh masyarakat yang memiliki peranan penting di bidang kesenian, kebudayaan, sosial bahkan sampai dengan politik di daerah Ponorogo. Arti warok sendiri bermakna laki-laki yang memiliki sikap ksatria, berbudi luhur dan berwibawa tinggi. Dari sanalah mengapa sate menjadi cikal bakal kuliner khas Kota Ponorogo.
Lalu, apa bedanya Sate Ayam Ponorogo dengan Sate Ayam dari daerah lainnya? Jika saya amati, Sate Ayam Ponorogo memiliki ciri khas yang berbeda dengan sate ayam lainnya yakni potongan daging ayamnya yang diiris tipis melintang. Untuk bumbunya biasanya ada yang bumbu kacang pedas dan biasa, tergantung dengan selera. Lontong yang pulen pasti menjadi penyertanya.
Di Ponorogo juga memiliki sentra khusus sate yang terdiri dari beberapa penjual sate, sehingga daerah tersebut cukup dikenal oleh pendatang atau wisatawan dari daerah luar Ponorogo.
Di blog kali ini, Sate Ayam Ponorogo yang akan dibahas adalah Sate Ayam Pak Keceng. Yap, bisa dilihat dari gambar tersebut, sate ayamnya dijual di gerobak sate pada umumnya. Berlokasi di Jalan Diponegoro, Krajan-Tambakbayan, Kabupaten Ponorogo. Lokasinya tepat di seberang Gedung Sasana Praja – Pendopo Kab Ponorogo.
Sate ayam tersebut uniknya memiliki pilihan daging ayamnya, ada yang ayam kampung dengan range harga Rp.20.000 (10 tusuk) dan ayam potong dengan range harga Rp.14.000 (10 tusuk). Begitupun dengan pilihan rasa bumbunya, ada yang pedas dan tidak pedas.
Untuk segi rasa, sudah pasti bisa diterima, enak gurih dan pedasnya pas. Ditambah adanya lontongnya yang pulen dengan porsi yang cukup. Biasanya penyajiannya ditambahkan toping bumbu sate yang kering di atasnya.
Bakul sate tersebut menyediakan area lesehan untuk tempat makan dine in, dan jangan khawatir untuk minum ada pilihan dari Angkringan yang berada tepat disebelahnya.
Sate ini saya rekomendasikan bagi temans yang memang ada rencana dolan ke Ponorogo, dan bisa dijadikan wishlist kuliner wajib Ponorogo. Untuk jam operasionalnya, Sate Ayam Pak Keceng buka mulai pukul 17.30 WIB sampai dengan Pukul 22.00 WIB.
Beberapa tahun kebelakang, bisa dikatakan saya sudah menjadi warga Ponorogo dan menetap di kota kecil ini. Walaupun secara dokumen kependudukan masih terdaftar sebagai warga Kota Bandung, tetapi secara keseharian dengan didukung dari latar belakang ikut suami yang memang mengharuskan dinas kerja di kota ini, saya harus bisa beradaptasi dengan apa yang menjadi kebiasaan di Kota Reog ini.
Jika dicari artikel tentang Ponorogo, kira-kira hal apa yang pertama kali terbesit di benak temans?
Yap, benar, Reog Ponorogo. Walaupun kebudayaan tersebut pernah diklaim oleh negara tetangga kita, tetapi Seni Reog sendiri merupakan keseniah orisinal khas dari Kota Ponorogo. Hampir setiap tahunnya, Pemerintah Kabupaten Ponorogo selalu mengadakan Festival Kesenian Reog, yang dimulai dari sekolah tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Hal itu didasarkan karena besarnya animo warga lokal maupun warga luar Ponorogo untuk terus memberdayakan Kesenian Asli Ponorogo.
JIka dilihat secara geografis, Ponorogo merupakan salah satu daerah kabupaten yang terletak di bagian barat di Jawa Timur, yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah. Terlihat dari penggunanaan bahasa Jawa yang biasa digunakan di daerah Ponorogo lebih terdengar sebagai bahasa jawa halus.
Selain terkenal dengan Kesenian Reog, Ponorogo juga sangat dikenal sebagi Kota Santri. hal tersebut dikarenakan banyaknya Pondok Pesantren yang berdomisili di Kabupaten Ponorogo. Pesantren yang populer adalah Pondok Pesantren Gontor.
Banyak hal yang menarik untuk dibahas tentang Kota Reog ini. Saya akan coba menulis artikel terkait hal-hal yang menarik tentang Ponorogo. Next artikel. saya akan mulai menulis tentang ” Kulineran Ramah Kantong di Ponorogo”. Ditunggu ya π
Makan, Ngopi dan duduk santai di Pawon Mbah Gito Yogyakarta, bikin perut kenyang, mata nyaman, kenangan tersimpan.
Siapa yang tidak menaruh rindu pada suasana Kota Yogyakarta? Tempat dengan segala atmosfer khas Jawa yang selalu melekat di setiap ujung kota, tentunya hal itu akan terus membayangi kenangan para pelesir, baik pendatang domestik maupun mancanegara yang memang pernah singgah di Kota Gudeg ini.
Bukan hanya kentalnya suasanya budaya Jawa yang disuguhkan, tetapi juga cita rasa dan kekhasan kulinernya. Tidak hanya tentang gudeg, ataupun bakpia saja yang menjadi cerita kuliner Kota Yogyakarta saat ini, tetapi sudah mulai terlihat banyaknya tempat-tempat makan yang tidak hanya menyajikan rasa yang menggugah selera, tetapi juga diselingi dengan bonus tampilan suasana yang menarik minat pengunjung untuk datang ke spot kuliner tersebut.
Beberapa minggu lalu, saya dan keluarga menyempatkan singgah ke kota yang memiliki candi-candi indah ini. Tentunya hal yang paling kami cari adalah kuliner, “apa sih yang lagi happening di Yogyakarta?” dalam hati saya. Akhirnya kami pun memilih untuk mencoba tempat makan yang memang sama sekali belum pernah kami coba, namanya “Pawon Mbah Gito”.
Pertama kali mendengar nama tersebut, pikiran saya langsung menyimpulkan bahwa ini hanya tempat makan kecil, sederhana, tanpa adanya spot foto untuk menambah koleksi gambar di medsos saya. Dan ternyata, apa yang saya pikirankan salah. Saya disambut dengan tampilan depan dan sirkulasi akses keluar masuk pengunjung yang cukup menarik dan estetik. Dengan tampilan bata ekspos untuk area dinding, ditambah dengan aksen gunungan wayang dan motif batik parang, semakin memperkuat kentalnya suasana Jawa.
Ket Gambar : Tampilan depan Pawon Mbah Gito, dengan tagline : kuliner ndeso
Ket Gambar : Area sirkluasi keluar masuk pengunjung menuju area utama Pawon
Pawon berasalah dari Bahasa Jawa, yang mengandung arti dapur, atau makna lainnya adalah tungku, atau biasanya memiliki ciri khas adanya pemakaian alat masak dari kayu, gerabah atau tanah liat, ataupun alat masak dari bambu.
Pawon Mbah Gito sendiri menurut saya sudah cukup berhasil menyajikan konsep “Pawon”, diantaranya terlihat dari etalase makanan yang menggunakan wadah dari tanah liat, dan tentunya menu khas makanan pedesaan yang cukup menggugah selera. Konsep tersebut diikuti dengan cara prasmanan dalam memilih makanan yang akan kita pesan. Jika makanan dan minuman yang telah kita pilih, kita dapat melakukan pembayaran langsung di area kasir.
Kisaran harga makan dan minum di Pawon Mbah Gito, relatif terjangkau untuk kalangan keluarga. Gambaran range harga makan dan minum disana kurang lebih 25.000 s.d 75.000 rupiah.
Untuk gambaran menu makan utama, terdapat lodeh, tempe mendoan, bakmi jawa, dan makanan khas rumahan lainnya. Variasi menu minuman yang ditawarkan juga beragam, yaitu es degan (es kelapa), kopi tubruk, strawberry punch, dan lain-lain.
Selain menyajikan makanan utama, Pawon Mbah Gito juga menawarkan makanan pembuka dan penutup, seperti jenang dan dimsum.
Ket Gambar : tampilan etalase prasmanan yang disajikan dengan berbagai pilihan menu makanan
Ket Gambar : Salah satu jenis menu penutup yaitu dimsum dan aneka jenang.
Lokasi Pawon Mbah Gito sendiri letaknya berada di daerah Kabupaten Sleman, yang berjarak kurang lebih 11 Km dengan waktu tempuh normal sekitar 25- 30 menit dari Pusat Kota Yogyakarta.
Pengunjung yang ingin mencoba sarapan juga bisa datang mulai pukul 07.00 Pagi. Biasanya saat akhir pekan, pengunjung yang datang tidak hanya dari luar kota,βtetapi juga terlihat warga sekitar yang datang untuk sarapan sekaligus healing sambil melepas lelah setelah berolahraga sepeda.
Ket Gambar : Salah satu spot duduk yang menghadap kehijaunya area sawah sebagai view utamanya.
Secara keseluruhan Pawon Mbah Gito ini menurut saya dapat dijadikan salah satu pilihan bagi para pendatang yang memang mencari suasana makan yang baru, sambil menikmati alam pedesaan di Kabupaten Sleman.